Wednesday, May 11, 2016

Peretemuan si kutilang keriting dan si hitam manis

Yiiipppiiii..... akhirnya bikin blog lagi.
mengobati kangen saat saat rajin menulis ngalor ngidul.

Kali ini akan dimulai dari cerita cerita tentang manusia. Rasa penasaran seperti apa dan akan jadi apa manusia itu dalam mengisi hidupnya, perlahan terjawab sudah. Seperempat abad sudah saya mengisi kehidupan ini. Manusia tidak pernah meminta diciptakan, begitu juga manusia tidak pernah meminta kapan dia harus meninggalkan kehidupan ini.

Awal pernikahan di akhir tahun 2014, saat musim hujan turun, suasana tanah yang becek, suhu udara yang dingin, bau aroma melati, bunga sedap malam, rasa kantuk, lapar, lelah menjadi campuran suasana yang pantas untuk dikenang. Hari Sabtu pagi itu, aku dinikahi seorang laki-laki bernama Aria. Dengan perawakan tinggi besar, sedikit hitam legam, alis tebal, mata sincan, dan senyum simpul adalah hal yang melekat dari ingatanku tentangnya.

Tidak lama perkenalan kami hingga akhirnya kami menginginkan pernikahan. Banyak sanak saudara dan teman yang merasa kaget atas rencana pernikahanku. Jangankan orang lain, aku sendiri pun kaget akan segera menikah. Pernikahan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya, namun selalu diimpikan, mungkin bagi setiap orang terutama diriku sendiri.

Aku sedikit terkantuk bahkan tertidur saat mempelai pria mengucapkan kalimat ijab kabul di depan semua orang. Saat itu aku di dalam kamar, mendengarkan samar-samar perkataan ijab kabul mempelai pria. Diawali dengan pembukaan, sambutan dari pihak mempelai pria, sambutan dari pihak keluargaku mempelai wanita, pembacaan ayat suci Al quran, doa, hingga prosesi ijab kabul.

Barulah setelah kata "sah" dari saksi pernikahan, aku diperbolehkan keluar menemui "suami" ku. Haha.. itu terasa mimpi. Selintas aku berpikir "oh my God, aku akan tidur dengan laki-laki ini mulai malam ini." Pikiran itu membuat aku gugup sendiri, hanya bisa berpikir sendiri membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti. Tapi pikiran itu tidaklah begitu penting, karena di depan sini aku harus berdiri di depan pelaminan seharian penuh untuk berjabat tangan dan berpoto bergantian dengan sanak keluarga dan teman. Sangat menguras tenaga.

Sesekali aku mengobrol dengan suami di atas pelaminan, tapi tidak karuan apa yang diobrolkan karena suasana cenderung masih canggung. What? kenapa aku harus canggung? secara dia laki-laki yang baru aku kenal setahun belakangan itu, tidak banyak waktu bagi kami untuk mengenal satu sama lain. Ditambah lagi, aku tinggal di Menes setelah lulus kuliah, dia tinggal di Balikpapan, dan itu berlangsung selama hampir 4 bulan. Aku hanya mengenalnya selintas saat mendapat proyek dosen sesaat setelah masing-masing dari kami menyelesaikan tugas akhir kuliah kami. Aku pun samar-samar mengingat wajahnya. Yang membuatnya berbeda adalah dia terlihat sangat tetarik padaku saat pertama kali bertemu di stasiun kereta Bogor untuk memberikan tugas proyek dosen. Saat itu aku hanya menyadari dia bahagia melihatku. Ah, laki-laki ini mungkin hanya pria selintas saja pikirku. Terserahlah dia tampak begitu bersemangat bertemu denganku, seolah ingin memperlambat waktu, tapi saat itu aku tidak mau ambil pusing.

Saat pertemuan itu, Hp ku terus berdering. Ya Tuhan, aku lupa ternyata aku sudah janjian minta tolong untuk dijemput oleh Abangku di stasiun karena kemalaman. Aku merasa tidak enak pada abangku, karena dia menunggu terlalu lama di stasiun. Mukanya sedikit kesal dan berkata judes padaku "lama bener, asik yaa ngobrolnya?" apah? kok si abang ini tahu kalo ada yang mengajakku ngobrol sambil memperlambat waktu? pikirku. Aku hanya tertawa dan minta maaf karena aku yang meminta tolong, tapi aku juga yang membuatnya menunggu lama.

Tapi sepanjang perjalanan, aku selalu terbayang senyuman si hitam di stasiun tadi. Kenapa senyumannya seperti menandakan dia membutuhkan dan menginginkanku. Selama ini aku selalu mencoba menebak-nebak arti senyuman seseorang. Ada yang tersenyum karena mentertawakan kebodohan kita, ada yang tersenyum karena memaklumi, ada yang tersenyum sinis, ada yang tersenyum karena memang mentertawakan obrolan, ada yang tersenyum menutupi kegetiran hidup, ada yang tersenyum karena berbohong. Tapi kali ini senyumannya adalah senyuman hangat dari seorang jantan kepada betina. Ah, itu hanya dugaanku saja barangkali. Dan kenapa aku harus repot-repot menangkap tafsiran senyumannya juga.

Tak lama setelah proyek dosen berakhir, aku sedikit lupa dengannya. Tapi pagi-pagi ada sms masuk ke hp ku, bertuliskan "Selamat pagi mentari, kecantikanmu bagaikan Dayang Sumbi." tertulis di hp ku itu nomor Aria. What? kenapa harus Dayang sumbi? apes sekali pikirku, Dayang sumbi itu putri cantik yang apes dicintai anaknya sendiri, kecantikan yang tragis pikirku. Tapi dia dengen percaya diri mengirimkan sms itu, mungkin tujuannya agar aku termakan rayuan gombalnya kah? akhirnya aku hanya bisa tertawa. Dari sms yang sesingkat itu banyak tafsiran yang aku dapatkan. Pertama, barangkali orang ini termasuk orang yang tidak romantis, karena kemampuan gombalnya begitu terbatas. Kedua, kenapa orang ini kemampuan gombalannya rendah, mungkin karena jam terbang bercintanya sangat rendah. Ketiga, jangan-jangan dia benar-benar tidak tahu kisah Dayang Sumbi? dia mungkin hanya mengingat bahwa Dayang Sumbi itu diceritakan sebagai putri yang cantik. Keempat, Dia tahu dari mana kalau Dayang Sumbi itu cantik kalau bukan dari komik atau kisah-kisah dongeng anak-anak. Hahaha... aku cukup puas menilai sms gombalannya. Dari semua penilaianku tentang gombalan pertamanya, menurutku tidak ada yang buruk tentangnya. Tapi saat itu aku tidak membalas smsnya, hanya tidak habis pikir saja.

Esok harinya dan beberapa hari setelahnya, dia terus mengirimkan sms gombalannya. Tapi dari setiap smsnya, tidak pernah ada kata tanya. seolah dia hanya ingin mengirimkan sesuatu tanpa mau tau bagaimana aku. Hal itu membuatku bingung membalas smsnya. Tapi karena menurutku dia sangat unik dengan gombalannya, aku coba membalas smsnya. Dari balasan pertamaku, dia memanfaatkannya dengan baik. Akhirnya kami saling mengobrol. Ya Tuhaan, aku mengobrol dengan orang yang mukanya saja aku samar-samar ingat. Yang aku ingat hanyalah senyum si hitam. Ternyata dia Balikpapan. Waah, secepat itu dia pergi pikirku, padahal kita belum sempat ngopi dan ngeteh berdua. Tapi dia berjanji dalam waktu dekat akan pulang menemuiku kembali. Aku cukup senang sambil berlalu tidak terlalu memikirkan janjinya. Bisa saja dia berbohong tidak menepati janjinya. Tapi bisa juga dia menepati janjinya.

Ternyata setelah hampir empat bulan tidak bertemu, dia pulang dari Balikpapan. Janjian bertemu denganku tepat saat dia menginjakan kaki di Bogor. Akhirnya untuk yang kedua kalinya kami bertemu di terminal Damri depan Botani Square. Aku cukup gugup tidak bernyali menemui seorang laki-laki dalam suasana hati seperti aneh begini, kenapa dia harus menepati janjinya. Atau aku saja yang tidak perlu menepati janji.

Di sudut lampu merah dia menungguku, aku beranikan diri menemuinya. Ternyata dia lebih hitam dari yang aku bayangkan. Sampai-sampai aku keceplosan berkata "wow, kok hitam sekali?" dia hanya tersenyum dan malah membuat dalih "iya, di Balikpapan kan panas, aslinya ga hitam begini kok." Kami hanya tertawa. Untungnya dia tidak tersinggung. dan itulah kencan pertama kami. Hingga 6 bulan kemudian, ijab kabul itu terucap.







No comments:

Post a Comment